“ Bocah bajang nggiring angin nawu banyuning segoro… ”, sepenggal lantunan tembang Jawa yang dilantunkan oleh sesosok wanita, diiringi dengan serangkaian gamelan yang mengalun indah, sehingga mewujudkan suatu komposisi musik yang sangat harmoni. Alunan tembang ini selalu mengiringi tampilnya salah satu tokoh dalam pewayangan, yaitu Ki Lurah Semar. Seorang public figure yang merupakan salah satu Punokawan dan sangat dikenal dalam benak masyarakat Jawa, akan tingkah lakunya yang selalu mengedepankan suatu kebenaran dengan bijak, serta sikapnya yang selalu dapat menghibur. Tokoh, karakter dan filosofi Semar dapat dijadikan sebagai wujud suri tauladan yang baik bagi manusia dalam menjalani kehidupan duniawi.
Jika dilihat dari berbagai sudut pandang yang perspektif, cerita pewayangan merupakan suatu bentuk penggambaran akan kehidupan diatas muka bumi ini, antara hubungan manusia dengan sesamanya, hubungan manusia dengan Sang Khalik, serta hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Dengan adanya suatu penggambaran tersebut, para pemirsa dapat mengambil hikmah dari petuah-petuah bijak yang terkandung didalamnya, sehingga hal itu dapat dijadikan sebagai pedoman hidup dan di aplikasikan dalam kehidupan nyata.
Salah satu aset budaya ini (kesenian wayang), merupakan ciri khas serta kepribadian bangsa kita dari hasil luhur budi dan daya nenek moyang bangsa ini. Konsep dasar serta penggarapannya yang matang, menghantarkan pagelaran ini menjadi suatu pertunjukan yang megah, dengan berkiblat pada Al-Qur’an dan Al- Hadits sebagai rohnya, menjadikan maha karya ini terlahir lebih hidup. Awalnya, wayang, dijadikan sebagai media untuk berdakwah oleh para Wali Songo, sehingga agama Islam dapat berkembang seperti saat ini di tanah Jawa. Suatu bentuk akulturasi budaya dan religi yang berjalan sinergi dan harmonis, tercipta dalam mewujudkan suatu kehidupan yang dinamis bagi masyarakat Jawa.
















